Rumah Teh Nona Jelita

by

Pertama kali mengunjungi Rumah Teh Nona Jelita merupakan suatu ketidaksengajaan bagiku. Aku pulang dari kantor sekitar pukul sembilan malam, ada lembur hari itu. Tiba-tiba gerimis menderas jadi hujan lebat. Aku yang tak siap payung segera saja mencari tempat berteduh. Ketika itu aku berteduh tepat di depan Rumah Teh Nona Jelita. Lama berdiri di sana aku terganggu oleh orang yang lalu lalang keluar masuk Rumah Teh Nona Jelita. Sesaat aku memandangi tulisan Rumah Teh Nona Jelita dari skotlet yang tertempel di kaca bagian depan kedai teh itu. Aku menerka-nerka font apa yang dipilih untuk tulisan Rumah Teh Nona Jelita. Terlihat unik dan tarasa klasik. Capai menerka, aku lalu iseng memandangi orang-orang di dalam yang tengah menikmati teh sembari bercengkrama. Ada cangkir-cangkir dan teko di meja mereka. Juga piring-piring kecil berisi kue-kue kering, teman minum teh.

Lalu, seperti terhisap pusaran gaib, aku mendadak tertarik untuk masuk ke Rumah Teh Nona Jelita. Sebenarnya, sudah lama aku tahu keberadaan kedai teh yang jadi pembicaraan teman-teman di kantorku itu. Namun aku tidak tertarik, atau lebih tepatnya belum tertarik. Namun gara-gara hujan lebat sialan ini, yang membuatku tertahan di depan Rumah Teh Nona Jelita aku jadi tertarik untuk menyambanginya.

Seperti apa rasa teh di Rumah Teh Nona Jelita? Bukankah menikmati teh di rumah lebih nyaman? Dan bukankah semua teh sama saja rasanya? Kenapa banyak orang suka minum teh Rumah Teh Nona Jelita? Pertanyaan-pertanyaan itu yang berkelebat di benakku dan semakin menggumpalkan rasa penasaran.

“Selamat datang di Rumah Teh Nona Jelita. Mau pesan apa, Pak?” Seorang pelayan perempuan berparas lumayan mengahampiriku saat aku baru saja duduk di salah satu sudut Rumah Teh Nona Jelita.



“Saya baru pertama kali datang. Buatkan saya teh paling enak di sini.” Aku sendiri menyadiri itu jawaban yang tidak eksploratif dan pragmatis.

”Sepertinya bapak harus mencoba Teh Nona Jelita. Itu teh paling enak di sini, setidaknya menurut pengakuan banyak pelanggan. Teh Nona Jelita adalah racikan kami sendiri, sebuah merk yang hanya bisa dijumpai di sini.”

”Boleh. Aku pesan Teh Nona Jelita.”

”Kue-kuenya? Atau bapak mau makan berat? Kami punya menu spesial, Walmiki namanya.”

”Apa itu Walmiki?”

”Daging ayam, bebek, kambing dan sapi dipotong dadu, lalu ditumis dengan bumbu rahasia kami. Tertarik?” Yang membuatku berkata iya dan menganggukkan kepala adalah karena pelayan itu tersenyum begitu manis kepadaku. Selain memang didorong rasa penasaran.

Sambil menunggu pesanan aku mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan. Aku memperoleh kesan atau mungkin kesimpulan, bahwa Rumah Teh Nona Jelita dulunya adalah rumah peninggalan Belanda, yang kemudian dengan sejumlah sentuhan disulap jadi kedai teh. Di sekitar Rumah Teh Nona Jelita memang masih banyak dijumpai bangunan-bangunan tua eks-kolonial. Dan sepanjang jalan di mana Rumah Teh Nona Jelita terletak memang merupakan kawasan kota tua. Wisatawan banyak yang datang untuk menyempatkan berfoto atau hanya melihat-lihat.

Tatap mataku telah menyapu hampir seluruh isi ruangan. Aku memuji interior di Rumah Teh Nona Jelita. Siapapun yang mendesain aku pantas angkat topi padanya. Cara mereka mengatur ruangan sangat berkelas sekali.

Beberapa detik kemudian pandangan mataku tertumbuk pada sosok seorang perempuan yang duduk di pojok kedai teh ini. Sendirian. Membaca buku. Kemungkinan novel. Rambutnya panjang. Aku suka. Perempuan itu, mau tak mau, menguras perhatianku. Sayang suasana Rumah Teh Nona Jelita agak remang-remang, sehingga membuatku tidak jelas memandang perempuan di sana itu. Tapi sungguh, di antara semua yang hadir di Rumah Teh Nona Jelita malam ini, hanya dia yang menarik.

”Silakan, Pak. Ini pesanan bapak.” Pelayan itu menganggukkan kepala, tersenyum, lalu beranjak meninggalkankku. Aku baru menyadari jika di bagian dada kiri seragam pelayan tertera nama. Kubaca tadi di seragam pelayan yang melayaniku segurat nama: Eva. Hmm..namanya Eva.

”Terima kasih,” aku sengaja diam sejenak, lalu melanjutkan, ”…Eva.”

Eva agak terkejut namanya kusebut. Tapi ia coba menutupinya dengan senyuman. Aku menikmati roman muka keterkejutan Eva tadi.

Begitulah. Aku pada akhirnya menyambangi Rumah Teh Nona Jelita untuk kali pertama. Selepas kunjungan pertama itu, selain suasananya yang menyenangkan, yang sedikit mencanduiku adalah rasa dari Teh Nona Jelita. Rasanya hangat menenangkan. Agak sepet tapi manisnya pas. Mungkin Teh Nona Jelita adalah teh terbaik yang pernah kucicipi. Selanjutnya aku ingin bereksplorasi di Rumah Teh Nona Jelita. Mencoba satu-satu teh yang disediakan di sana, terutama teh yang mereka racik sendiri, tentu saja. Oya, Walmiki juga mengesankan. Tak aneh jika mereka merahasiakan bumbu Walmiki. Namun seporsi Walmiki urung kutandaskan. Takut kolesterol.

**

Malam Minggu ini aku menyambangi lagi Rumah Teh Nona Jelita. Kujumpai lagi perempuan itu disudut kedai ini. Ia mengenakan pakaian yang selalu begitu. Selalu minimalis dan sederhana. Kaos dan celana jins. Namun di situlah pesona perempuan itu. Tenang dan sahaja. Apa yang ia kenakan senantiasa terlihat pas di badannya. Secara berlebihan aku menduga, perempuan itu kerap ke salon untuk perawatan kecantikan. Sungguh, ia selalu enak dipandang! Atau memang dari sananya sudah cantik. Entah.

Secepat aku tertarik dengan perempuan yang menghabiskan waktu di Rumah Teh Nona Jelita untuk membaca buku itu, secepat itu pula aku memutuskan untuk menulis novel tentangnya. Perempuan itu misterius, sekaligus inspiratif. Dan aku berniat menulis novel itu di sini, di Rumah Teh Nona Jelita. Ya, selain bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan, aku juga menulis sastra, novel dan beberapa cerpen. Sudah dua novelku diterbitkan. Tidak terlalu laku. Temanya melawan pasar. Biar. Setidaknya aku sudah bersuara lantang lewat novel.

Baiklah. Mari memulai menulis novel. Pertama-tama aku keluarkan laptop dari tas. Kuletakkan di meja pada posisi senyaman mungkin. Letak dudukku memungkinkan untuk leluasa memandangi perempuan itu. Aku sengaja tidak ingin berkenalan apalagi ngobrol dengannya. Itu hanya akan merusak suasana dalam menulis novel. Maka, aku bebaskan imajiku menulis tentang perempuan itu. Menulis apa saja.

**

Sudah sekitar lima hari aku menyambangi Rumah Teh Nona Jelita secara terus menerus. Setiap pulang kerja aku buru-buru pulang, mandi, berganti baju lalu bergegas ke kedai teh yang eksotis itu. Beruntungnya aku, perempuan pembaca buku itu selalu ada di Rumah Teh Nona Jelita, dan duduk di sudut itu , sudut dekat jendela kaca. Aku yakin dari tempat perempuan itu duduk menikmati lalu lalang orang dan kendaraan amatlah menyenangkan. Segalanya tampak.

Lima hari aku menulis novel di Rumah Teh Nona Jelita sudah lima puluh halaman kudapat. Jadi, rata-rata perhari aku mampu menulis 10 halaman sekali duduk. Untuk kecepatan menulisku itu aku patut berbangga diri. Aku menulis memang tergantung suasana. Jika sudah nyaman dan tidak terganggu aku bisa menulis dengan sangat cepat. Dan di Rumah Teh Nona Jelita lebih dari nyaman yang kudapat. Lebih-lebih objek yang kutulis ada di depanku. Waktu yang kumiliki juga cukup panjang. Biasanya aku masuk Rumah Teh Nona Jelita pukull tujuh, lalu baru keluar sekitar pukul satu atau dua pagi.

Aku memang menulis apa saja tentang perempuan itu. Pada mulanya ku jelaskan dulu siapa perempuan itu, kenapa ia ada di Rumah Teh Nona Jelita serta buku apa saja yang selama ini dibacanya. Kemudian kilas balik masa kecil perempuan itu. Bagian ini aku menulis panjang lebar. Aku suka masa kecil. Aku gemar mengamati anak kecil. Maka apa yang ada di otak aku tumpahkan. Tidak semua memang. Aku simpan untuk bagian-bagian selanjutnya. Lalu aku sampai pada bagian ketika ada seorang laki-laki yang selama ini mengawasinya ketika berada di Rumah Teh Nona Jelita. Itu lelaki yang misterius. Dalam ceritaku, ia dulu adalah mantan anggota Badan Intelejen Negara. Nah, sampai di situ aku berhenti. Kehabisan ide. Aku perlu ambil nafas panjang untuk kembali melanjutkan.

**

Menulis novel dengan cara begitu ternyata mengasyikkan. Ada sensasi berbeda, tentu saja. Aku juga makin dekat dengan Eva, pelayan yang pertama kali kujumpai di Rumah Teh Nona Jelita. Eva sering datang ke kamarku untuk sebuah percintaan. Sambil menunggu peluah kami berhenti menetes, aku bertanya banyak hal tentang Rumah Teh Nona Jelita. Sayang sekali, Eva seperti tidak penuh dan lepas bercerita tentang Rumah Teh Nona Jelita. Seperti ada yang disembunyikan. Kukira setelah bercinta ia jadi lebih terbuka. Tapi setidaknya informasi dari Eva tentang Rumah Teh Nona Jelita cukup untuk lebih menghidupkan novelku.

Beberapa hari ini aku menjumpai pemandangan baru di Rumah Teh Nona Jelita. Dua orang berjas hitam dan bercelana hitam selalu terlihat di kedai teh ini. Jam kedatangannya tidak beda jauh dari kedatanganku. Pukul tujuh hingga pukul satu. Aku tidak mau ambil pusing. Barangkali ia sama dengan pengunjung yang lain. Ingin menikmati teh untuk menghangatkan badan di malam-malam yang dingin. Meskipun kebiasaan mereka agak ganjil, selalu menelepon (atau ditelepon) setiap pukul sembilan. Ah, bodo amat!

Novelku kunyatakan selesai. Dalam 125 halaman. Malam ini aku akan berkenalan dengan perempuan cantik kutu buku itu. Syukur-syukur bisa ngobrol panjang dan di kemudian hari bisa berlanjut ke sesuatu yang lebih hangat. Tapi rencanaku remuk. Malam ini sungguh tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Ini malam benar-benar laknat.

Sebuah peluru menembus pelipis perempuan itu! Dari arah luar. Sniper! Babi buntung!

Aku tercekat sesaat. Kenapa bisa begini? Aku segera berlari menghampiri perempuan itu. Pelayan-pelayan lain melakukan hal serupa.

”Oh, Nona! Oh, Tuhan! Oh, Tidak.” Mereka meraung-rung seperti serigala terluka.

Melihat ekspresi pelayan-pelayan yang menurutku agak aneh ini aku bertanya pada salah satu dari mereka.

”Siapa yang meninggal itu.”

”Dia Nona Marsha. Pemilik Rumah Teh Nona Jelita ini. Dia baik sekali. Oh, malang benar nasibnya. Jahanam bagi pembunuhnya!”

Ah, ternyata dia pemilik kedai teh ini, pantas saja kedai ini diberi nama Rumah Teh Nona Jelita, batinku.

Keterkejutan dan kesedihan jadi satu di dadaku. Objek novelku baru saja tewas di depan mataku. Padahal aku baru ingin memintanya jadi pembaca pertama novelku. Sial! Dalam langkah gontai aku menuju mejaku. Dan tak ada yang lebih membelalakkan mataku kecuali raibnya laptopku! Oh, draft novelku! Setan kudis!

Dengan gusar kuedarkan pandang ke segala penjuru. Semua kacau balau. Dua orang berjas hitam yang tadi masih di Rumah Teh Nona Jelita sudah menghilang. Aku mencari Eva. Ia juga tidak ada. Pasti ini ada apa-apa.

Kondisi tubuhku mendadak merosot tajam. Aku harus segera kembali ke kamarku. Kedai teh itu memang benar-benar gila. Harus kutinggalkan ia sebelum segala sesuatunya jadi lebih buruk.

Baru saja aku keluar Rumah Teh Nona Jelita sebuah pukulan mendarat di tengkukku. Setengah sadar aku diseret masuk ke mobil. Mobil melaju kesetanan. Dan aku tidak tahu apa-apa lagi. Hidup adalah misteri.

Ponorogo, 25 Agustus 2011

(Surabaya Post, 2 Oktober 2011)