Drama

by

Bagaimanapun, drama adalah drama. Penonton tahu (sadar) jika para pemain sedang ‘bohong’ belaka.

Hari ini, Jumat, saya harus menuju Pejaten. Saya ada perlu dengan Kang One, redaktur pelaksana ROL (Republika Online). Masih dalam rangka skripsi. Dan lantaran skripsi, perlahan tapi pasti saya mulai hafal lekuk liku jalanan Ciputat-Pejaten. Saya, meski ada motor, lebih memilih untuk memanfaatkan jasa angkutan umum P20. Lebih efisien saya pikir. Selain cepat (P20 masuk tol), saya juga bisa ‘menyimpan’ tenaga. Entah mengapa, saya merasa mengendarai motor di Jakarta sangat menguras tenaga. Selain macet dan polusi, ada hal lain yang saya sendiri tidak tahu. Banyak hal ‘gaib’ di Jakarta.

Sekitar pukul sembilan pagi saya menuju Lebak Bulus. Menanti P20. Kopaja warna hijau itu memiliki trayek Lebak Bulus-Pasar Senen. Ia lewat Pejaten. Lewat persis di depan kantor Republika. Beberapa hari terakhir saya jadi begitu akrab dengan P20. Kopaja itu menyediakan dua pilihan: AC dan non-AC. Tarifnya beda, yang AC Rp 5.000, sedang non-AC Rp 2.000. Saya kadang naik P20 AC, kadang yang non-AC. Tidak tentu. Tergantung suasana hati saja (juga mungkin tergantung suasana kantong).

Nah, pagi itu saya memilih naik P20 non-AC. Ketika saya naik suasana cukup lengang. Beberapa bangku tampak kosong. Di muka pintu ada pengamen nyanyi lagu D’Massiv dan Ungu. Saya memilih bangku paling belakang. Meski di tengah ada juga yang kosong. Di bangku belakang, yang mampu membuat lima pantat orang dewasa, baru terisi tiga. Di samping kanan saya ada dua orang lelaki. Tampilannya agak lusuh. Yang satu pakai jaket dan berkumis, satunya lagi pakai batik dan bertopi. Sedangkan di sisi kiri saya ada pemuda yang tampaknya sedang mencari kerja di ibu kota.
Saya bersyukur karena kopaja berwajah muram ini tidak terlalu lama ngetem di Pasar Jumat. Begitu bangku penuh, kopaja langsung jalan. Sampai di Pondok Pinang, beberapa orang naik. Salah satu di antara mereka membagikan kertas foto copy warna kuning berukuran kecil: iklan pijat refleksi. Saya hanya membacanya sekilas. Ada gambar wajah dengan titik-titik. Masing-masing titik punya makna tersendiri. Barangkali itu sumber penyakit, yang jika dipijat tepat di titik itu maka penyakit akan hilang. Di kertas warna kuning itu ada tulisan ‘solusi sehat’ di pojok kiri atas. Di bawahnya ada gambar kepala bertitik. Lalu di bawahnya ada kalimat klise iklan pengobatan: percayakan kepada kami.

Orang berkumis di samping kanan saya, sebut saja Pak Kumis, tampak antusias dengan iklan itu. Ia bertanya: di mana buka praktik? Si Pak Iklan (orang yang membagikan brosur pijat refleksi foto copy-an warna kuning) menjawab: kami buka di Giant. Kopaja reot ini terus berjalan. Terhuyung-huyung membelah jalanan selatan Jakarta. Kopaja masuk daerah Fatmawati. Pak Kumis terlihat makin antusias. Ia bertanya lagi: ini bisa mengobati katarak? Dengan semangat Pak Iklan menukas: oh, bisa, bisa. Diam-diam saya melirik ke Pak Kumis, ingin melihat matanya, saya penasaran, mata orang katarak itu seperti apa?

Kedua orang itu terus saja berbicara. Namun saya sudah mulai tak peduli. Hingga akhirnya Pak Kumis meminta dipijat oleh Pak Iklan. Dan Pak Iklan menyetujui. Katanya ini gratis. Anggap saja sebagai salam perkenalan. Mula-mula Pak Iklan memijat tangan Pak Kumis. Lalu beralih ke kaki. Ia bilang: coba luruskan kakinya, coba dilemaskan. Pak Kumis menurut saja. Namun, mak bedunduk, tiba-tiba Pak Iklan juga meraih tangan saya dan dengan santai memijatnya. Katanya: mas juga harus coba. Ekspresi saya dingin saja. sedikit curiga. Pak Iklan kemudian juga meraih kaki saya. Awalnya saya jengah dan enggan dipijat. Tapi ia setengah memaksa. Ia berujar sama: coba luruskan kakinya, coba dilemaskan.

Jreng! Di tengah upaya Pak Iklan ‘meluruskan’ dan ‘melemaskan’ kaki saya, saya merasa ada tangan yang merogoh saku kanan saya di mana ada blackberry di dalamnya. Reflek saya menyikut tangan nakal itu yang tak lain dan tak bukan adalah tangan Pak Kumis! Saya tercekat. Saya dan Pak Kumis adu pandang. Mata saya melotot tajam (meski tak setajam silet). Pak Kumis ‘kalah’ adu mata dengan saya lalu menunduk. Jantung saya berhenti sepersekian detik. OMG, saya nyaris saja kecopetan. Saya nyaris kehilangan BB yang menyimpan wawancara dengan narasumber skripsi. BB yang menjadi alat komunikasi utama dengan kawan dan kolega dan keluarga.

Secepat saya sadar saya akan dicopet, secepat itu saya tahu bahwa ada satu komplotan yang mengincar saya. Jadi, antara Pak Kumis dan Pak Iklan telah bersekongkol. Telah saling kenal, tentu saja Mereka tidak berdua. Tapi bertiga. Ditambah Pak Topi yang duduk di samping Pak Kumis. Andai Pak Iklan berhasil meluruskan dan melemaskan kaki saja (dan saya terbuai oleh pijatannya) lalu Pak Kumis berhasil mengambil BB di kantong, maka BB itu akan dioper ke Pak Topi lantas mereka turun. Begitu kira-kiran planning mereka. Untunglah seorang teman pernah bercerita soal modus pencopetan macam begini. Sehingga saya tahu dan wasapada dan terhindar dari melapateka. Rasanya, saat itu juga saya ingin sujud syukur, tapi sayang kopaja sedang penuh penumpang.
Cerita belum usai. Salah seorang penumpang yang baik hati (berbadan besar, berambut cepak, tapi bukan kopassus, sebut saja Pak Cepak) ‘mengusir’ komplotan itu.

“Mau apa lu tadi?” hardiknya.

“Eh, lu jangan ganggu ya!” Pak Kumis balas membentak.

“Mas, ada yang hilang tidak?” Pak Cepak bertanya pada saya. Saya menggeleng.

“Awas lu ye. Lihat aja di Senen. Habis lu!” Pak Iklan coba menggertak Pak Cepak.

“Hei, mau gue teriakin?! Turun gak lu!” Pak Cepak berteriak sambil melotot.

Rupanya komplotan itu melempem juga, seperti kerupuk kena air. Satu persatu turun. Mulai dari Pak Kumis, Pak Iklan lalu Pak Topi. Melihat keributan tadi kenek kopaja diam saja. Sibuk menghitung pendapatan. Padahal keributan kecil tadi cukup menyita perhatian penumpang. Usai tiga orang itu turun, barulah kami berdengung seperti tawon.

“Wah, untung Mas refleknya bagus dan nggak kecopetan. Kalau saya selalu taruh dompet dan hape di tas, dan tasnya saya taruh depan. Aman.,” kata seorang penumpang yang sepertinya pekerja kantoran.

“Saya sudah curiga tuh, Mas dengan orang di samping Mas tadi. Gelagatnya aneh,” lelaki di samping kiri saya urun suara.

Pak Cepak juga menambahkan,”tadinya Pak Topi menyilakan saya duduk di sampingnya. Tapi saya ogah. Perasaan sudah nggak enak duluan. Mereka juga mengincar saya.”

Atas respon orang-orang itu saya tersenyum, “saya sudah tahu trik mereka, teman pernah cerita.” Saya kemudian mengambil novel Animal Farm karya George Orweel untuk sekadar menenangkan hati yang sedikit shock. Untungnya novel itu punya humor yang berbobot, saya sedikit tenang.

Lalu hening. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya suara derum mesin tua kopaja yang sesekali diselingi decit rem melintas di ruang dengar.

Hmmm, sebuah drama yang antiklimaks. Para pencopet itu, menurut saya, sedang memainkan drama di atas kopaja dengan lakon ‘Tukang Pijat Gadungan’. Sayang drama harus berakhir sebelum tirai panggung ditutup. Jika Pele bilang bahwa: football is stage of drama, maka saya ingin bilang: kopaja is a stage of drama too.

Gusti Allah tresno kulo (lan panjenengan sami). Semoga.